Tuesday, August 23, 2011

Orang yang tertipu di akhirat


Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah orang yang jika berbuat baik, dia berkata, "Akan diterima amal kebaikanku". Jika berbuat maksiat, dia berkata: "Akan diampuni dosaku." (Ihya Ulmuddin).

Saat beribadah, kerap kita didatangi perasaan, "Telah banyak ibadah yang saya lakukan", atau soalan, "Berapa ringgit wang yang saya sedekahkan". Bahkan sering juga hati bergumam, "Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku solat sunat sekian kali setiap hati".

Perasaan, angan-angan dan soalan seperti tersebut di atas boleh merosakkan amal perbuatan. Bahkan boleh mengakibatkan meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.

Sehingga, ibadahnya boleh menjadi sia-sia. Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi kerana takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus. Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Quran. Ancaman-Nya dianggap lalu saja.

Rasulullah SAW memberi gambaran: "Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya, dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata: dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. "(HR. Bukhari Muslim)

Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat berbahaya. Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.

Orang seperti ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia dia lupa mengira berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengira jumlah solat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.

Ia tidak mengetahui seberapa besar pengiraan pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.

Maka dalam beribadah kita mesti mempunyai pengetahuan seimbang antara berita baik dan ancaman Allah SWT. Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Quran harus menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya. Sementara orang yang hanya menumpukan kepada jumlah pahala (berita baik) disebut sebagai jahil. Tidak mengetahui bahawa setiap hari diawasi oleh malaikat Raqib dan 'Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.

Kita pun kadang-kadang terlalu 'asyik' melafazkan huruf demi huruf al-Quran, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya. 'Keasyikan' itu menimbulkan kebanggaan hati, bahawa ia telah melakukan amal baik - iaitu membaca al-Quran sebanyak-banyaknya.

Pernahkan terbisik di dalam hati kita kata-kata ini: "Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Quran telah aku khatamkan. Pasti aku masuk syurga ". Ini kata-kata yang menipu. Memastikan diri ini cukup berbahaya. Boleh menimbulkan 'ujub, bahkan melalaikan dosa.

Fenomena ini pernah terjadi pada masa umat nabi Musa as, seperti tertulis dalam al-Quran: "... Maka datanglah sesudah mereka, iaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta benda dunia yang rendah ini, sambil berkata: 'Kami akan diberi keampunan oleh Allah. '"(QS. Al-A'raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.

Imam al-Ghazali menjelaskan: "Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari pengiraan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah terkumpul. "

Maka, jangan kita tertipu oleh perasaan diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan, bukan asyik mengira pundi-pundi pahala. Setelah beramal, biarlah kita serahkan kepada-Nya. Allah SWT Maha Bijaksana, Dia yang menetapkan pahala kita secara adil. Jangan pula terburu-buru mengatakan "Saya telah ikhlas!". Biasanya orang yang terang-terangan berkata demikian sebaliknya, tidak ikhlas, sebab membawa perasaan 'ujub di hatinya.

Agar tidak terjebak, kita harus mengira dosa yang telah kita lakukan. Sempatkanlah satu-satu masa dalam sehari untuk mengira, berapa kali dosa yang telah kita lakukan sehari ini. Jika tidak ada pengiraan dosa, kita akan terus merasa tidak pernah berbuat dosa.

Allah SWT berfirman: "Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat Raqib dan 'Atid." (QS. Qaaf: 18). Perasaan selalu diawas ini akan menjadikan kita orang yang selalu berhati-hati dalam beribadah. Tidak asal ibadah, tapi tahu ilmu tentang ibadah.

Kita boleh saja memikirkan pahala-pahala dari ibadah, akan tetapi hal itu jangan sampai membuat kita terlena dengan keutamaan-keutamaannya (fadlilah). Keutamaan ini menjadi penyemangat kita bukan melemahkan. Mengetahui keutamaan ibadah sekaligus memahami akibat dari melakukan dosa. Inilah keseimbangan yang perlu dijaga dalam beribadah.

KLIK IKLAN TABUNG BULUH BLOG INI Free advertising

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Hari-hari rakyat susah 2.0 Copyright © sejak 2007 Hari-hari rakyat susah 2.0 Keretaburuk/Tempe Goreng Blogger Template