Saturday, June 25, 2011

Ini dia pemancung termasyhur di Arab saudi

http://igambar.com/p/uh6vi

Kisah pemancungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi, Ruyati binti Satubi, menjadi isu nasional. Lalu siapa pegawai pemancung Ruyati? Misteri. Yang jelas, algojo berpedang tajam itu harus tega, tak boleh iba.

Bicara soal algojo, tak banyak yang melakoni profesi algojo pemancung di Saudi. Jumlahnya hanya sekitar 6 orang yang dilantik langsung kerajaan untuk melaksanakan hukuman berdasarkan syariat Islam. Salah satunya adalah Abdallah Al Bishi.
Pada sekitar 2007, salah satu TV Lubnan, LBO TV, mewawancara algojo yang disebut "yang termasyhur" ini, mengenai serba-serbi algojo pemancung. detikcom cuba merangkumnya dari Youtube, Jumaat (24/6/2011).

Al Bishi mendedahkan dirinya mewarisi profesi pemancung dari ayahnya Sa'id Al Bishi. Dia ingat saat dia kecil menemani ayahnya memancung orang di Makkah. Pemandangan itu menjadi titik balik bagi hidupnya.

"Saya saat itu sedang sekolah dan siri pelaksanaan yang dikendalikan ayah sedang disiapkan. Tepatnya di depan gerbang King Abdul Aziz. Kami lantas datang," tutur Al Bishi yang diwawancara ditemani 3 anaknya yang masih kecil-kecil.

Hal pertama yang ada di fikirannya saat orang-orang berbicara tentang pemancungan adalah, organ sistem pencernaan. Saat itu, tambahnya, dirinya yang duduk di bangku sekolah sedang mempelajari mengenai sistem pencernaan.

"Jadi saya datang menemani ayah melaksanakan orang. Jadi saya ingin melihat (organ) sistem pencernaannya. Namun yang saya lihat adalah kepala manusia yang melayang dan lehernya, kemudian ada pancaran seperti telaga. Dan kemudian jatuh. Cukup, dan saya tak tahan lagi," jelasnya.

Malamnya, Al Bishi mengalami mimpi buruk. "Saya mempunyai mimpi buruk, hanya sekali. Lantas saya jadi terbiasa (melihat pemancungan-red). Segala puji bagi Allah," katanya.

Hingga suatu saat, 10 hari selepas ayahnya meninggal sekitar tahun 1991 atau 1992, dirinya didatangi seseorang yang berkata, "Saya mempunyai misi". Dan Al-Bishi pun diberi tahu bahawa misi itu adalah pelaksanaan hukuman mati.

"Saya mengatakan no problem. Saat itu saya berusia sekitar 32 atau 35 tahun," katanya.

Al Bishi mengatakan saat itu dia tidak mempunyai pedang atau senjata apa pun. Jadi dia memakai pedang milik ayahnya. Misi pertamanya adalah memancung 3 orang.

Bagaimana perasaan anda ketika itu? "Setiap orang khuatir akan pekerjaan pertamanya. Dan kalau takut, dia mungkin gagal," jawabnya.

Dan sejak itu, pedang milik Al Bishi sudah memancung ratusan orang lebih. Dia pun lantas mempamerkan pedang-pedang. Salah satunya yang dinamakan 'The Sultan', pedang sepanjang 50 cm itu agak melengkung bilahnya, seprti bulan sabit tua. Al Bishi mengatakan semua pedang-pedang yang dimilikinya adalah pedang Jowhar (salah satu wilayah di Somalia).

Al Bishi mengatakan ada jenis-jenis pedang yang sesuai untuk memancung dengan gerakan melintang mahupun menegak. Untuk gerakan memancung melintang, Al Bishi memeragakan menebas pedang ke arah depang-samping. Sedangkan menegak adalah memancung dari atas ke bawah.

Ketika ditanya apa yang paling sukar saat dia menjadi algojo, atau pernahkah dia memancung orang-orang yang dikenalnya bahkan temannya sendiri, Al Bishi menjawab, "Ya, saya memancung orang dan beberapa di antaranya teman saya sendiri. Tapi siapa yang melakukan kesalahan, akan kembali pada dirinya sendiri. "

Ketika ditanya lagi, apakah sukar memancung orang berjenis laki-laki atau perempuan, dan apakah ada rasa iba jika memancung terpidana mati perempuan, Al Bishi lagi-lagi dengan tegas menjawab, "Yang paling sukar saat memancung orang adalah saat dia tidak boleh mengendalikan kegugupannya. apakah duduk, atau berdiri tegak. Kalau saya iba saat saya memancung, dia akan menderita. Kalau hati iba, tangan ini boleh gagal. "

Tak jarang dalam sehari, Al Bishi memancung lebih dari 3 orang. Sampai-sampai pegangan pedangnya patah.

Apabila anda memancung 3-4 kali dalam sehari, apakah butuh break sejenak? Adakah anda memerlukan rehat untuk melaksanakan?

"Tiga, empat, lima, enam orang, tidak ada itu (rehat). Pelaksanaan adalah pelaksanaan, sepanjang orang itu berdiri tegak, itu akan memudahkan kerja kita," jelasnya.

Selain memancung terpidana mati, Al Bishi juga melaksanakan hukuman potong tangan bagi pencuri dan bahagian tubuh lainnya sesuai dengan undang-undang syariat Islam. Al Bishi mendedahkan hukuman potong bahagian-bahagian tubuh ini berbeza dengan hukuman mati.

"Hukuman itu dilakukan dengan pembiusan tempatan," katanya, lain halnya dengan hukuman mati. "Tidak, seseorang itu tidak dibius (jika dipancung)," ujarnya.

Al Bishi menolak pekerjaan disebut kejam. Berita-berita kekejaman yang berseliweran menurut dia berasal dari khabar angin. Al Bishi malah merasa terhormat dengan profesinya itu, dan menganggapnya sebagai pengabdian untuk Allah.

Bahkan, dia melatih anak pertamanya, Badr, untuk menggantikannya kelak, sebagaimana dia menggantikan ayahnya. "Segala puji bagi Allah, Badr dilantik untuk melakukannya di Riyadh," jelasnya.

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Hari-hari rakyat susah 2.0 Copyright © sejak 2007 Hari-hari rakyat susah 2.0 Keretaburuk/Tempe Goreng Blogger Template